UPTD Latihan Kerja Disnakertrans Provinsi Banten

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten ikut melaksankan Visi – Misi Gubernur dan Wakil Gubernur, Visi Pembangunan Provinsi Banten Tahun 2017- 2022 adalah: “BANTEN YANG MAJU, MANDIRI, BERDAYA SAING, SEJAHTERA DAN BERAKHLAKUL KARIMAH”

Berita Pelatihan Kerja Provinsi Banten

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten akan menggelar Job Fair 2023, dimana acara tersebut dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 25 – 26 Oktober 2023 bertempat di Halaman Masjid Raya Al-Bantani (KP3B).

Otonomi Daerah

Pasca reformasi tahun 1998, kehidupan demokrasi Indonesia mengalami perubahan yang cukup besar. Masyarakat Indonesia menolak Undang-undang (UU) nomor 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintah daerah yang sentralistik dimasa Orde Baru. Akhirnya pemerintah Indonesia menerbitkan UU nomor 22 tahun 1999, tentang otonomi yang luas kepada daerah. Dimana semua urusan pemerintahan adalah pemerintahan daerah, kecuali urusan pemerintahan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter, dan fiskal nasional, serta agama yang menjadi kewenangan absolut pemerintahan pusat serta kewenangan lainnya seperti kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. Sebelum reformasi dan terbitnya UU nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, Banten merupakan salah satu daerah dibawah pemerintahan Jawa Barat. Daerah yang ujung pulau jawa yang juga merupakan pintu masuk masyarakat Sumatera yang hendak ke pulau jawa ini kondisinya sangat memprihatinkan. Ribuan kilometer jalan tidak layak pakai. Akses kesehatan sangat terbatas. Akses pendidikan sangat minim, dan lain sebagainya. Sejak tahun 1960-an, masyarakat Banten sudah memperjuangkan pemekaran daerah ke pemerintah pusat. Namun selalu ditolak. Begitu pun saat pemerintahan Orde Baru, niat masyarakat Banten untuk berdiri sendiri dan lepas dari Jawa Barat pun mendapat kendala dan penolakan. Namun saat reformasi Mei 1998, niat masyarakat Banten untuk lepas dari pemerintahan Jawa Barat sudah tidak bisa dibendung. Dengan cucuran keringat, air mata, pengorbanan harta, akhirnya keinginan masyarakat Banten untuk menjadi daerah otonom mendapat respon yang cukup baik. Dikomandoi oleh beberapa elemen tokoh masyarakat, seperti Triana Syamsun, Uwes Qurni, Suryadi Sudirja, Muhtar Mandala, H Chasan Shohib, Ismet Iskandar, Aat Syafaat, Udin Saparudin, Sulaeman Affandi, Didi Supriadi, serta kalangan mahasiswa dan dosen di antaranya Ruby Ach Bhaedowi, Agus Ken ken, dan lainnya. Akhirnya pemerintah pusat mengabulkan keinginan masyarakat Banten untuk lepas dari pemerintah Jawa Barat dan beridir sendiri. Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi baru hasil dari pemekaran provinsi jawa barat, terdiri dari 8 kabupaten/kota. Provinsi banten terbentuk pada 04 oktober tahun 2000, UU No. 23 Tahun 2000 tertanggal 17 Oktober tahun 2000. Adapun puncak perayaan terjadi pada tanggal 4 Oktober 2000 saat puluhan ribu masyarakat Banten datang ke Gedung DPR RI di Senayan Jakarta, dengan Sidang Paripurna DPR untuk pengesahan RUU Provinsi Banten. Akhirnya, masyarakat Banten pun sepakat tanggal 4 Oktober 2000 sebagai Hari Jadi Provinsi Banten yang saat itu dipimpin oleh Bapak H.D. Munandar sebagai Gubernur dan Ibu H. Ratu Atut Chosiyah, SE sebagai wakil Gubernur. Terbentuknya provinsi banten merupakan salah satu hasil dari terjadinya otonomi daerah. Hari Otonomi Daerah yang diperingati pada tanggal 25 April setiap tahunnya merupakan momen penting bagi negara kita untuk memperingati keberhasilan serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan otonomi daerah. Di bawah UU Nomor 32 Tahun 2004, terbentuklah lebih banyak daerah otonom baru, dan pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara langsung menjadi kenyataan. UU Nomor 23 Tahun 2014 ditetapkan untuk memperjelas pengaturan pemerintahan daerah, pilkada, dan desa. Hingga tahun 2022, Indonesia memiliki 34 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah akan terus menjadi komitmen pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Dalam upaya memeratakan pembangunan, khususnya di Papua, pemerintah melakukan pemekaran daerah otonom baru seperti Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.

Halal Bihalal

Seusai perayaan Idul Fitri atau lebaran, ada tradisi di masyarakat Indonesia yang dilaksanakan yaitu Halal Bihalal. Biasanya, halal bihalal dilaksanakan oleh pegawai, masyarakat umum, dan keluarga besar. Halal Bihalal memang terdengar seperti berasal dari bahasa Arab. Halal Bihalal sebenarnya berasal dari kata serapan 'halal' dengan sisipan 'bi' yang berarti 'dengan' (bahasa Arab) di antara 'halal'. Namun, Halal Bihalal sebenarnya bukan berasal dari Arab, melainkan merupakan tradisi yang dibuat di Indonesia. Kata Halal Bihalal bahkan sudah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam KBBI, Halal Bihalal berarti hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Halalbihalal juga diartikan sebagai bentuk silaturahmi. Ada beberapa versi mengenai halal bihalal tersebut diantaranya adalah, Asal Usul Halal Bihalal Versi I Ada sejumlah versi asal usul istilah Halal Bihalal. Istilah Halal Bihalal berasal dari kata 'alal behalal' dan 'halal behalal'. Kata ini masuk dalam kamu Jawa-Belanda karya Dr. Th. Pigeaud 1938. Dalam kamus ini alal behalal berarti dengan salam (datang, pergi) untuk (memohon maaf atas kesalahan kepada orang lebih tua atau orang lainnya setelah puasa (Lebaran, Tahun Baru Jawa). Sementara halal behalal diartikan sebagai dengan salam (datang, pergi) untuk (saling memaafkan di waktu Lebaran). Asal usul istilah Halalbihalal ini bermula dari pedagang martabak asal India di Taman Sriwedari Solo sekitar tahun 1935-1936. Pada saat itu, martabak tergolong makanan baru bagi masyarakat Indonesia. Pedagang martabak ini dibantu dengan pembantu primbuminya kemudian mempromosikan dagangannya dengan kata-kata ‘martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal’. Sejak saat itu, istilah halalbehalal mulai populer di masyarakat Solo. Masyarakat kemudian menggunakan istilah ini untuk sebutan seperti pergi ke Sriwedari di hari lebaran atau silaturahmi di hari lebaran. Kegiatan Halalbihalal kemudian berkembang menjadi acara silaturahmi saling bermaafan saat Lebaran. Asal Usul Halal Bihalal Versi II Versi kedua asal usul Halalbihalal berasal dari KH Abdul Wahab Hasbullah pada tahun 1948. KH Wahab merupakan seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Wahab memperkenalkan istilah Halalbihalal pada Bung Karno sebagai bentuk cara silaturahmi antar-pemimpin politik yang pada saat itu masih memiliki konflik. Atas saran KH Wahab, pada Hari Raya Idul Fitri di tahun 1948, Bung Karno mengundang seluruh tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahim yang diberi judul 'Halalbihalal.' Para tokoh politik akhirnya duduk satu meja. Mereka mulai menyusun kekuatan dan persatuan bangsa ke depan. Sejak saat itu, berbagai instansi pemerintah di masa pemerintahan Bung Karno menyelenggarakan halalbihalal. Halalbihalal kemudian diikuti masyarakat Indonesia secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Hingga kini Halalbihalal menjadi tradisi di Indonesia. Makna Halal Bihalal Halal Bihalal tidak dapat diartikan secara harfiah dan satu persatu antara halal, bi, dan halal. Istilah 'halal' berasal dari kata 'halla' dalam bahasa Arab, yang mengandung tiga makna, yaitu halal al-habi (benang kusut terurai kembali); halla al-maa (air keruh diendapkan); serta halla as-syai (halal sesuatu). Dari ketiga makna tersebut dapat ditarik kesimpulan makna halalbihalal adalah kekusutan,kekeruhan atau kesalahan yang selama ini dilakukan dapat dihalalkan kembali. Artinya, semua kesalahan melebur, hilang, dan kembali sedia kala. Tradisi Halal Bihalal Sudah Ada Sejak Masa Mangkunegara I Tradisi serupa dengan Halalbihalal diyakini sudah ada sejak masa Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Saat itu, untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran dan biaya, setelah salat Idul Fitri, Pangeran Sambernyawa mengadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Pada pertemuan ini diadakanlah tradisi sungkem atau saling memaafkan. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam, dengan istilah halal bihalal Demikian ulasan asal usul mengenai Halal Bihalal. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. *Diambil dari berbagai sumber

Usai Idul Fitri

Kota Besar Diserbu Warga Baru SERPONG, UPT Latihan Kerja- Setiap tahun, seusai perayaan Idul Fitri atau lebaran, ada fenomena menarik di masyarakat. Yaitu banyak masyarakat dari daerah (pedesaan-red) menyerbu kota-kota besar di seluruh Indonesia. Khususnya menyerbu daerah Jakarta dan sekitarnya. Fenomena yang disebut urbanisasi tersebut akan terus berlanjut meskipun nantinya Jakarta tidak lagi menjadi ibu kota negara. Hal ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya masyarakat daerah beranggapan di kota besar banyak kesempatan untuk memperbaiki hidup secara ekonomi. Pasalnya, di daerahnya, mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk menopang kehidupan ekonominya. Biasanya, warga yang datang ke kota besar khusunya Jakarta dibawa atau mengikuti sanak saudaranya yang sudah berada di kota besar maupun Jakarta. Sehingga, sampai di kota besar atau Jakarta, mereka bisa ditampung sementara di sanak saudaranya yang ada di daerah tersebut. Bahkan, jumlah pendatang yang masuk ke kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta lebih banyak jika dibandingkan dengan warga kota-kota besar atau Jakarta yang pulang kampung (mudik-red) saat lebaran. Sosiolog Universitas Indonesia, Ricardo, menuturkan fenomena ini bakal masih ada karena kota-kota besar khususnya Jakarta merupakan kota dengan perputaran perekonimian yang cukup besar. Sementara itu,sejarawan JJ Rizal menyebut, tradisi merantau ke kota-kota besar khususnya Jakarta sudah berlangsung sejak masa Hindia Belanda. Tradisi ini semakin meningkat ketika awal abad ke-20. "Terutama pas kota-kota besar muncul dan industrialisasi meningkat," kata Rizal dalam kesempatan terpisah beberapa waktu lalu. JJ Rizal menjelaskan, sejak zaman Belanda di Indonesia, pembangunan terpusat di kota-kota, terutama di Batavia (Jakarta). Oleh sebab itu, aktivitas ekonomi pun juga ikut terpusat di satu titik. "Jakarta, kan, pusat sentralisme yang melanjutkan ibu kota kolonial Belanda. Jadi, dia mewarisi yang sudah terjadi pada masa kota Batavia," ujarnya. Fenomena ini harus diantisipasi oleh pemerintah, agar tidak terjadi banyaknya pendatang yang justru menambah angka pengangguran. Hal ini bisa diatasi dengan menyiapkan para calon perantau agar memiliki kehalian/skill, agar nanti Ketika mereka sampai di kota, lebih mudah mencari pekerjaan. “Apalagi di era digital dan industrialisasi seperti saat ini, masyarakat harus mempunyai kehalian atau skill jika ingin hidup di kota-kota besar khususnya Jakarta. JIka tidak mempunyai kehalian atau skill, mereka akan menjadi beban bagi daerah yang bersangkutan,” katanya lagi.

Makna Lebaran

Membahas perayaan berbagai agama di Indonesia maupun di dunia tidak akan pernah habis. Karena perayaan setiap agama akan dilakukan setiap tahun. Meskipun perayaan agama umat muslim seperti Idul Fitri sudah berlalu, namun perayaan Idul Fitri masih relevan di bahas. Sebelum kita mengetahui makna dari Idul Fitri, kita harus tahu terlebih dahulu bagaimana cara umat Islam merayakan Idul Fitri? Biasanya umat islam melaksanakan perayaan Idul Fitri seusai melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan. Setelah melaksanakan ibadah puasa Ramdhan selama satu bulan penuh, pada tanggal 1 syawal, umat Islam akan melaksanakan perayaan Idul Fitri. Idul Fitri artinya kembali suci. Hari Kemenangan bagi umat Islam yang sudah melaksanakan puasa ramadhan. Malam sebelum Idul Fitri, biasanya masyarakat muslim mengumandangkan takbir dan tahmid. Baik di masjid, musholla maupun di rumah masing-masing. Paginya masyarakat berbondong-bondong mendatangi masjid untuk melaksanakan salat Idul Fitri. Seusai melaksanakan salat Idul Fitri, seluruh umat muslim, khususnya di Indonesia akan saling meminta maaf satu dengan lainnya. Mereka saling mengunjungi rumah sanak keluarga dan tetangga. Saat saling mengunjungi tersebut, biasanya warga yang dikunjungi menyediakan berbagai makanan. Mulai dari kue-kue modern, makanan tradisional, bahkan ada juga yang menyuguhkan makan besar. Dan menu makanannya juga sangat bervariasi. Tergantung daerahnya masing-masing. Setiap perayaan Idul Fitri, pemerintah selalu meliburkan seluruh pekerja. Baik pekerja formal maupun non-formal. Bahkan seluruh siswa maupun mahasiswa pun mendapatkan libur. Sehingga masyarakat bisa berkumpul dengan sanak saudara, tetangga dan handaitolan untuk merayakan Idul Fitri. Terkait libur atau cuti saat perayaan keagamaan, negara lain pun sama memberikan libur atau cuti kepada pegawainya yang hendak mengikuti perayaan keagamaan. Dalam hal ini, perayaan Idul Fitri. Seperti di Amerika Serikat (AS) dan Inggris, umat Islam dapat meminta cuti sekolah dan cuti kerja sehingga mereka dapat bepergian atau merayakannya bersama keluarga dan teman. Di negara-negara seperti Mesir dan Pakistan, umat Islam menghiasi rumah mereka dengan lentera, lampu kelap-kelip, atau bunga. Makanan khusus pun akan disajikan untuk menjamu teman, tetangga, maupun keluarga besar yang akan diundang berkumpul bersama. Bahkan di negara Yordania, dengan populasi mayoritas Muslim, beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri tiba, mereka akan berburu hadiah di mal-mal lokal dan pasar Ramadhan. Mereka akan bersiap untuk bertukar hadiah pada saat Idul Fitri. Di Turki dan di tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kekaisaran Ottoman-Turki seperti Bosnia dan Herzegovina, Albania, Azerbaijan dan Kaukasus, juga dikenal sebagai, "Lesser Bayram" atau "festival" di Turki. Idul Fitri juga juga merupakan waktu untuk amal, yang dikenal sebagai Zakat al-Fitr. Idul Fitri dimaksudkan sebagai waktu sukacita dan penuh berkah bagi seluruh umat Muslim dan waktu untuk membagikan harta kekayaan seseorang kepada mereka yang tidak mampu agar turut berbahagia di hari raya. Untuk itu, mari kita bahas mengenai “Makna Lebaran”. Makna lebaran dapat diperoleh dari asal katanya. Untuk membedah suatu kata, kita mengenal dua cara, yaitu secara etimologi dan terminologi. Sisi etimologi mengupas tentang asal-usul kata. Sedangkan terminologi membahas mengenai makna dari kata tersebut. Lebaran memiliki lima padanan kata, yaitu lebar-an, luber-an, labur-an, lebur-an dan liburan. #1 Lebar-an Lebaran berasal dari kata lebar yang ditambahkan imbuhan –an. ‘Lebar’ berarti lapang. Maknanya, tentu agar di hari raya kita harus berlapang dada. Sifat lapang dada muncul untuk meminta dan sekaligus memberi maaf kepada sesama. #2 Luber-an Luber dalam KBBI memiliki arti melimpah, meluap. Dengan kata lain, melewati batas daripada batas yang ditentukan. Luber maafnya, luber rezekinya, dan luber pula pahalanya sehabis Ramadhan. Untuk itu, maka luber-an bertransformasi menjadi lebaran. #3 Labur-an Lebaran diambil dari kata dalam Bahasa Jawa, yaitu laburan. Artinya, mengecat. Hal ini tak lepas dari kebiasaan dari mayoritas orang Indonesia. Menjelang datangnya Idul Fitri, semua kepala keluarga sibuk mengecat rumahnya agar tampak indah. Dari kebiasaan laburan menjelang Idul Fitri inilah, lebaran menjadi sebuah kata yang setara dengan makna Idul Fitri itu sendiri. #4 Lebur-an Kata leburan diambil dari Bahasa Jawa yang berarti menyatukan. Artinya, selepas Ramadhan itu diharapkan kita mampu meleburkan diri kita pada sifat-sifat Tuhan. Caranya dengan ujian dan cobaan, dengan kesabaran dan ketenangan. Semangat perubahan itulah yang merubah leburan menjadi lebaran. #5 Liburan Lebaran merupakan plesetan dari liburan. Dalam kalender Nasional, Hari Raya Idul Fitri adalah tanggal merah. Ini berarti hari libur. Oleh karena alasan itu, maka liburan yang diucapkan berulang-ulang, menjadi awal mula munculnya istilah lebaran. Sedangkan untuk “Makna Idul Fitri” Tidak seperti makna kata ‘lebaran’ yang dipengaruhi budaya, Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa. Tujuan berpuasa yaitu menjadi manusia yang bertaqwa. Idul Fitri berasal dari dua kata “id” dan “al-fitri”. Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Sedangkan kata ‘fitri’ memiliki dua makna, yaitu suci dan berbuka. Suci berarti bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan. Sedangkan fitri yang berarti berbuka berdasarkan pada hadits Rasulullah SAW: ”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Apa Bedanya Idul Fitri dan Lebaran? Setelah melaksanakan puasa Ramadhan selama satu bulan, umat muslim merayakan Idul Fitri. Di Indonesia sendiri, salah satu hari raya Islam ini disebut lebaran. Sebetulnya, tak ada perbedaan antara keduanya. Sebutan ini muncul karena budaya dan bahasa. Namun, hal tersebut justru membuat maknanya berbeda. Memaknai Idul Fitri Dari penjelasan makna Idul Fitri di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Idul Fitri berarti kembalinya seseorang kepada keadaan suci atau keterbebasan dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan sehingga berada dalam kesucian atau fitrah. Hari raya ini pun merupakan hari raya kemenangan dimana umat muslim merayakannya dengan kembali “buka puasa” atau makan. Itulah mengapa salah satu sunnah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 Syawal itu waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa. Sering kali, banyak orang yang terlena dengan makna Idul Fitri. Tak sedikit orang yang membeli baju atau barang baru atau menyediakan makanan yang banyak. Memang, tak ada salahnya seperti itu. Namun, kita sebagai umat muslim tidak seharusnya berlebihan. Bagaimanapun juga, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memaknai Idul Fitri sungguh-sungguh. Bukan soal banyaknya makanan yang kita punya di hari raya ini, melainkan berapa banyak bantuan yang kita beri untuk mereka yang kekurangan. Bukan soal barang atau baju baru dan mewah, melainkan seberapa bersihnya hati kita untuk mau memaafkan orang lain. Untuk kalian yang ingin bisa berbagi dengan orang yang tidak seberuntung kamu di hari raya, jangan lupa menyisihkannya. Karena itu, Idul Fitri juga dapat dimaknai sebagai hari kemenangan di mana umat Muslim bahagia merayakannya dengan buka puasa atau makan. Hal ini juga yang membuat Idul Fitri termasuk dalam hari-hari yang dilarang untuk berpuasa. Selain menjadikan momen Idul Fitri sebagai hari kemenangan, hendaknya seorang Muslim memanfaatkannya untuk memperbaiki dan menyucikan diri dari dosa yang telah dilakukan. "Idul Fitri adalah waktu untuk memperbaiki, memaafkan dan merenung. Selamat merayakan hari yang Fitri. Mari jadikan momentum hari kemenangan ini untuk menjadi insan yang semakin baik dalam ketaatan.”

Profil Kinerja & Pelayanan

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pedoman Pembentukan dan Klasifikasi Cabang Dinas dan Unit Pelaksanan Teknis Dinas, Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 8 Tahun 2016 tentang pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Banten, dan Peraturan Gubernur Provinsi Banten nomor 86 tahun 2016 tentang Pembentukan, Organisasi dan tata Kerja Unit Pelaksana Teknis dilingkungan Pemerintah Provinsi Banten, sebagaimana telah di cabut menjadi Peraturan Gubernur Banten Nomor 19 Tahun 2018 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Cabang Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Banten, yang selanjutnya disempurnakan dengan Peraturan Gubernur Nomor 55 Tahun 2021 tentang Perubahan kedua Peraturan Gubernur Nomor 19 Tahun 2018 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Cabang Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Banten. Berdasarkan Peraturan Gubernur Banten nomor 19 tahun 2018 adanya penambahan 4 (empat) UPTD Pengawasan Ketenagakerjaan dengan type B, dan perubahan nomeklatur UPTD BLKI, menjadi UPTD Latihan Kerja.Kelas AAA.

Struktur Organisasi UPTD Latihan Kerja Disnakertrans
Provinsi Banten

  • Visi Pembangunan Provinsi Banten Tahun 2017- 2022 adalah: “Banten yang Maju, Mandiri, Berdaya Saing, Sejahtera dan Berakhlakul Karimah.”

Informasi Pelatihan Kerja

Daftar pelatihan kerja yang diadakan oleh UPTD Latihan Kerja Disnakertrans Provinsi Banten.